Medan|Harian88 – Diduga melakukan penipuan dan atau menguasai hak orang lain yang bukan miliknya, SW alias Acoi ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Subdit I/Kamneg DitresKrimum Polda Sumut

“Dia sudah tersangka, penyidik masih melengkapi berkas agar dapat segera dikirim ke jaksa,” kata Dirreskrimum Poldasu Kombes Pol.Andi Rian Djajadi, Sik kepada wartawan, kamis (09/08) siang.

Kombes Andi Rian mengatakan, SW dilaporkan Suteja sesuai laporan polisi no LP/295/III/2018/Poldasu tanggal 5 Maret 2018.

Sementara itu, SW alias Acoi yang dikonfirmasi melalui WA ke no; 0813-3611-9xxx soal tanggapan dirinya dijadikan tersangka oleh Poldasu, tidak berhasil. WhatsApp (WA) yang dikirim tidak dibalas, dihubungi langsung juga tidak mau mengangkat hanphonnya.

SW alias Acoi disebut-sebut anggota Dewan Kota Walikota Medan. Dia juga disebut-sebut mengaku alumni Lemhanas RI (Lembaga Pertahanan Nasional) yang satu alumni dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Pria turunan Tionghoa yang mengaku dekat dengan para pejabat ini adalah pengusaha yang merevitalisasi pasar Timah dan pasar Titi kuning. Yang mana saat ini, para pedagang pasar timah menjadi trauma karena diancam akan digusur.

Sementara Suteja kepada wartawan mengatakan,kasus itu berawal dari sewa lahan seluas 8.672 meter persegi di.Jl.Cemara simpang Jl.Krakatau.

Sewa lahan dilakukan selama 10 tahun sejak 27 Oktober 2007 sampai 27 Oktober 2017. Dalam perjanjian disebutkan, setelah habis masa perjanjian maka lahan akan dikembalikan kepada pemilik yaitu Suteja.

Kemudian, penyewa yakni Alwin, Anton dan Leonardo Soh termasuk Suteja sebagai pemilik saham 45 persen membentuk usaha yang kemudian membangun gedung olah raga yakni PT.Cemara Sport Center (PT.CSC).

Akan tetapi, pada tahun 2009, muncul nama SW alias Acoi yang kemudian mengadakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) tanpa mengikutkan Suteja selaku pemegang saham terbesar 45 persen. Dan memilih Sumandi Widjaja sebagai Komisaris Utama.

“Sejak saat itulah SW mengaku kalau gedung PT.CSC adalah miliknya,” kata Suteja. Seiring bergulirnya waktu, sambung Suteja, masa kontrak lahan habis pada 27 Oktober 2017.

“Setelah selesai masa kontrak, saya minta supaya hak saya dikembalikan sesuai perjanjian. Namun SW tidak mengembalikan bahkan dia melakukan perlawanan. Sehingga saya melaporkan ke Poldasu,” terang Teja saat Poldasu memasang police line di gedung PT.CSC pada Jumat (3/8) lalu.

“Kita memasang police line setelah mendapat izin sita dari ketua PN Medan No; 2054/Sit/Pid/2018/PNN Medan dan surat perintah penyitaan no.sp.sita/305/VIII/2018/Ditreskrimum tanggal 1 Agustus 2018,” kata Kasubdit I/Kamneg AKBP Simon Sinulingga melalui Kanit 4 Subdit I/Kamneg Kompol Sahrul Rambe saat pemasangan Police Line gedung PT.CSC Jl.Cemara Kel Pulo Brayan Baru Kecamatan Medan Timur, Jumat (3/8) lalu.

Saat pemasangan police line, puluhan warga meneriaki SW penipu dan penggusur pedagang dengan alasan revitalisasi pasar, seperti Pasar Timah Jl.Timah. (koto88)