Panyabungan|Harian88 – Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, ternyata memliki setidaknya sepuluh situs budaya yang tersebar di berbagai lokasi bahkan ada yang diprediksi berdiri pada abad IX dan lebih tua dari Candi Portibi di Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal, Askolani Nasution di Panyabungan, Senin, mengatakan, adapun situs-situs budaya tersebut adalah Candi Simangambat di Kelurahan Simangambat, Candi Siabu di Saba Uduk Siabu, Situs Padang Mardia di Kelurahan Kota Siantar.

Kemudian Situs Saba Biara Pidoli di desa Pidoli Lombang, timbunan candi Aek Milas di aek milas Siabu, Bagas Godang Panyabungan Tonga, Bagas Godang Pidoli Dolok, Bagas Godang Hutagodang, Bagas Godang Singengu, Bagas Godang Pakantan.

Menurut dia, jejak peradaban di Mandailing sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, misalnya candi Simangambat diprediksi ada diabad ke IX.

Candi itu 200 tahun lebih tua usianya dibandingkan candi Portibi di Padang Lawas,” katanya.

Pada candi Simangambat, lanjut dia, ada sesuatu hal menarik yakni menunjukkan bukti jejak peradaban Hindu-Budha klasik di Kabupaten Mandailing Natal yang dibuktikan dengan pragmen candi dari segi relief dan konstruksi batu candi.

Sedangkan pada situs Padang Mardia di Kelurahan Hutasiantar, selain memiliki keunikan yang menunjukkan adanya peradaban zaman yang berbeda yakni peradaban Megalitikum 2000 sampai 5000 tahun sebelum Masehi dan peradaban Islam pada peradaban kerajaan Mandailing.

“Uniknya pada situs ini ada beberapa peradaban yakni peradaban Hindu-Budha dan Islam,” ujarnya.

Sementara untuk situs Bagas Godang yang ada di Mandailing menunjukkan adanya kerajaan-kerajaan di Mandailing pada pasca kerajaan Hindu-Budha klasik.

Kerajaan itu diperintah oleh marga-marga yang ada di Mandailing Natal.

Dia mengakui selain situs-situs tersebut Mandailing Natal masih banyak memiliki peninggalan purbakala lainnya seperti, tulisan aksara Mandailing dikulit kayu dan bambu.

“Dengan banyaknya situs-situs yang ada tersebut sepatutnya dapat dipelihara, direnovasi dan dipugar kembali guna untuk menunjukkan kepada generasi muda bahwa Mandailing Natal memiliki peradaban yang tinggi,” katanya.