Tapsel|Harian88 – Gemar makan ikan yang diprogramkan pemerintah kurang begitu direspon masyarakat di daerah seperti di Kab. Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pasalnya, sejak akhir 2017 hingga Januari 2018 kalangan ibu rumah tangga atau IRT mengeluhkan naiknya harga beli ikan laut di daerah itu

Seperti yang diutarakan Ani (43) seorang IRT warga Kec, Sayurmatinggi, Jumat, (12/1), kalau harga ikan khususnya laut tidak terlalu mahal mungkin ia lebih memilih ikan laut sebagai menu makanan. Ia lebih memilih menu ikan air tawar, telur atau tempe karena sesuai kemampuan keuangannya.

“Selisih harga Rp10 ribu/ kilogramnya antara ikan laut (jenis tongkol) perkilo antara Rp38 – 45 ribu/kilo dan ikan lele (Rp25 – 30/kilo) lumayan bisa untuk nambah beli sayuran,”tuturnya.

MenurutKabid ketersediaan dan distribusi pangan Tapanuli Selatan, Tua Ali Saib Siregar, dihubungi mengatakan, faktor cuaca menjadi penyebab faktor pemicu kenaikan harga ikan laut di pasar – pasar tradisional yang ada di daerah itu.

“Informasi didapat para nelayan Sibolga – Tapanuli Tengah enggan melaut akibat gelombang laut tinggi di daerah itu, menyebabkan stok ikan menipis,” katanya.

Ia menyebut di pasar tradisional di Tapanuli Selatan harga ikan tongkol dari semula per kilonya dihargai Rp30 – 35 ribu naik menjadi Rp 35 – 40 / Kg, ikan kakap dari Rp30 /Kg naik menjadi Rp50 – 60 ribu/Kg. “Konsumsi ikan laut untuk masyarakat Tapanuli Selatan umumnya berasal kota Sibolga – Tapanuli Tengah,” sambungnya.

Sementara sambungnya, ikan mas perkilonya Rp 25 – 28/ Kg, ikan mujahir Rp 20 – 22 ribu/ Kg dan lele Rp25 – 30 ribu/kilonya. (Riani88)