Proyek Irigasi Provsu di Gido Kabupaten Nias Tidak Optimal

218

Nias|Harian88 – Ratusan warga masyarakat asal Kabupaten Nias dan Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara meminta kepada Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumatera Utara untuk meninjau kembali pelaksanaan pembangunan saluran irigasi di sepanjang pemukiman warga dari Jalan Besar Desa Lolozasai Kabupaten Nias menuju Desa Bakaru Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, karena dinilai tidak optimal dan tidak bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Permohonan masyarakat untuk meninjau serta merelokasi kembali proyek irigasi tersebut, di sampaikan kepada Kadis PSDA Provsu di Medan melalui surat yang ditandatangani enam kepala desa dan ratusan orang warga masyarakat, tertanggal 7 September 2018.

Dalam surat masyarakat tersebut menyampaikan beberapa alasan permohonan relokasi, diantaranya, 1. bahwa lokasi pembangunan yang sedang dilaksanakan bukan merupakan area persawahan, 2. bahwa lokasi pembangunan merupakan kawasan padat penduduk, maka sangat tidak logika jika pembangunan saluran irigasi tersebut dilanjutkan sekalipun merupakan program pembangunan jangka panjang, 3. bahwa selain pelaksanaan pembangunan tersebut tidak bermanfaat juga sangat mengganggu halaman pemukiman warga dan dapat merusak lahan perkebunan masyarakat sebab ketinggian lantai saluran irigasi sama tingginya dengan pondasi bangunan rumah warga.

Warga mengusulkan agar pembangunan saluran irigasi tersebut dimulai dari terusan irigasi gido yakni dari titik sekunder Siafasi Desa Soewe menuju lokasi persawahan Bakaru Desa Siwalubanua I yang seterusnya menuju Gido Sebua arah laut, karena lokasi tersebut merupakan area persawahan yang sangat luas dan dikelola oleh sejumlah kelompok tani.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang di temui Harian88 diruang kerjanya, Jumat (14/9), Binaya Siahaan yang juga merupakan Kepala Seksi Sungai PSDA UPT Nias mengakui bahwa saluran irigasi yang telah ada tidak optimal.

“Bangunan yang telah ada sekarang adalah saluran sekunder, memang saat sekarang dan beberapa tahun yang lewat tidak optimal, maka kami mengusahakan untuk mengoptimalkan kembali setelah sekian lama diusulkan, dan sekarang mungkin inilah endingnya ditahun ini untuk kita benahi, yang panjangnya 1500 meter, alasan mengoptimalkan kembali, karena melihat jangka panjang sekalipun dianggap masyarakat tidak ada manfaatnya” kata Binaya.

Binaya menjelaskan bahwa pembangunan irigasi satu-satunya di kepulauan nias yakni di gido sebua adalah wewenang pemerintah provinsi sumatera utara untuk mengelola menurut keputusan menteri nomor 14 tahun 2015 seluas 1258 hektar, dan merupakan usulan sejak tahun 2016 lalu.

Sempat beredar isu bahwa pelaksanaan kegiatan yang berlangsung saat ini belum ada dalam pembahasan anggaran DPRD Provsu, kata Binaya, hal itu tidak benar. (az88)