Sergai|Harian88 – Sekolah Dasar Negeri (SDN) 105366 yang terletak di Dusun I Desa Sei Nagalawan kecamatan Perbaungan – Sergai,merupakan salahsatu SD Negeri yang paling lama dan idola wali murid dikawasan tersebut,dan hal ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan kaum Ibu yang lagi menunggu anaknya pulang sekolah,Sabtu (21/7).

Nuraini (32) warga Dusun II Desa Nagalawan yang anaknya 2 orang bersekolah ditempat itu,sembari menunggu anaknya diteras Perpustakaan Sekolah dengan logat pesisir campuran melayu/Banjar mengatakan,”SD Negeri ini termasuk yang paling lama di desa kami,kalau dibandingkan SD Inpres lainnya memang lokasinya sempit, tapi kalau dulu sudah termasuk luas dan sudah banyak mantan pelajar dari sekolah ini yang sudah berhasil”,kata Ibu Nuraini.

Kami akui kalau sewaktu mendaftarkan anak kami disini,kami tentunya mengikuti aturan yang sudah ditetapkan karena jelas harus antri,sebab banyaknya orangtua yang mau mendaftarkan anaknya,sementara ruang sekolah sangat terbatas dan tak bisa dilebarkan lagi disebabkan sudah diapit oleh rumah warga.Intinya,pihak sekolah masih memprioritaskan warga desa dan kalaupun ada orangtua yang mengeluh,wajarlah karena tak ngerti”,ucapnya sembari pamit karena anaknya pulang.

Korwil SD kecamatan Perbaungan,Haji. D.Naibaho didampingi Plt Kasek SDN 105366,J.Pakpahan serta beberapa Guru wanita diruang guru sekolah tersebut,kepada beberapa wartawan yang hadir untuk melihat lokasi sekolah mengatakan,”silahkan kalau mau melihat kondisi sekolah dasar ini,kalau dikatakan tak layak untuk belajar mengajar berdasarkan catatan sekolah hingga kini ada 290 dari semua kelas,belajar disini dan silahkan tanya sama orangtuanya yang lagi nunggu anaknya”,jelas haji Naibaho.

Plt Kasek sekolah J.Pakpahan menimpali,”jumlah murid kelas I ada 39 siswa dan mereka dibagi dalam dua tahap belajar ( 2 rombongan belajar/rombel),kelas II = 54 siswa (2 rombel),kelas III = 42 siswa ( 2 rombel ),sedangkan kelas IV berjumlah 51 siswa (2 rombel/pagi dan siang),kelas V = 49 (2 rombel/pagi dan siang) dan kelas VI = 55 ( 2 rombel/pagi dan siang”,jelas Pakpahan.

“Memang ketika hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran,ada datang rekan wartawan dan saat itu sekolah baru selesai di cat dan bangku-bangku juga masih belum tertata, dan yang akan direhab juga masih ada didalam kelas belum sempat dikeluarkan oleh Tukang yang juga libur lebaran.Saat itu para orangtua kelas I sejak pagi sudah berebut bangku untuk anaknya,padahal kalau mengikuti peraturan hasil seleksi tidak ada yang tak dapat bangku,karena kita menerima murid sesuai peraturan dan kondisi kelas yang ada.Nyatanya sekarang setelah kita tata bangkunya,tidak ada masalah lagi”,jelas Pakpahan.

Selaku Korwil SD di Perbaungan,H. Naibaho menambahkan,”bapak lihatkan sampai sekarang ini saja Tukang masih menyiapkan bangku cadangan,kalau ada yang rusak biar cepat diganti.Kita akui,dana BOS kita terima persis saat libur lebaran dikarenakan pada saat libur itu,perbaikan atau rehab tidak mengganggu waktu belajar/mengajar”,imbuh Haji Naibaho.

Masalah yang kerap dihadapi pihak sekolah,lanjut Naibaho adalah perpindahan murid yang mengikuti orangtuanya keluar daerah,tapi belum genap 3 bulan pindah ternyata si anak nggak kerasan,dan kembali minta sekolah ditempat yang lama,ini yang pelik dan menjadi pekerjaan tambahan akibat orangtuanya kurang mengetahui aturan.

“Karena kita tidak mau sang anak tidak sekolah,kami terpaksa juga harus ekstra mengurusnya kembali.Belum lagi akibat konflik orangtua yang bercerai,sang anak menjadi rebutan dan akibatnya tidak bersekolah,dalam hal ini kami “jemput bola” kepada orangtuanya sekalipun pada akhirnya ada juga yang tidak kembali bersekolah,sebab konflik keluarga juga berakibat kepada sang anak.Tapi jika anak itu tidak masuk sekolah karena tidak ada biaya,seperti peralatan sekolah dan lainnya,sesuai perintah pak Kadis semampu kami akan kita susul mereka kerumah murid tersebut,dan kita upayakan agar anak tersebut harus sekolah dan alhamdulillah jumlah murid tetap sesuai bangku ”,pungkas Naibahao.-(biet88)